Gunungkidul — STAI Yogyakarta Wisuda 57 Lulusan dalam Sidang Senat Terbuka 2025/2026

Gunungkidul — Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Yogyakarta kembali menggelar Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 pada Ahad, 9 Agustus 2026, bertepatan dengan 25 Shafar 1448 H. Bertempat di Auditorium Swardiyono Kampus STAI Yogyakarta, prosesi berlangsung dengan penuh khidmat dan menjadi momentum penting bagi 57 mahasiswa yang resmi menyandang gelar sebagai lulusan.

Prosesi wisuda tersebut dihadiri sejumlah undangan dan tokoh penting, di antaranya Sekretaris PWNU DIY, Koordinator Kopertais Wilayah III DIY, serta perwakilan Bupati Gunungkidul. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan apresiasi sekaligus motivasi kepada para lulusan yang akan memasuki fase pengabdian di tengah masyarakat.

Perwakilan Bupati Gunungkidul Berikan Apresiasi

Bupati Gunungkidul yang tidak dapat hadir secara langsung diwakili oleh Suprianto, S.E., M.T., Staf Ahli Bupati Bidang Sosial Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia. Dalam sambutannya, ia menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan memberikan penghargaan atas kontribusi STAI Yogyakarta dalam bidang pendidikan.

Menurutnya, STAI Yogyakarta memiliki peran penting sebagai mitra pemerintah dalam menyiapkan generasi yang memiliki kompetensi, nilai-nilai keagamaan, serta kepedulian terhadap budaya dan kehidupan sosial masyarakat.

Tiga Pesan Penting dari PWNU DIY

Pesan penguatan juga disampaikan oleh Sekretaris PWNU DIY, Dr. Muhajir, S.Pd.I., M.Si. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh civitas akademika STAI Yogyakarta sekaligus memberikan pesan kepada para lulusan agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Dalam sambutannya, terdapat tiga mandat yang perlu menjadi perhatian para wisudawan.

Pertama, mandat ideologis. Para lulusan diharapkan mampu menjadi bagian dari kader Nahdlatul Ulama yang terus menjaga dan mengembangkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Kedua, mandat sosial-keagamaan. Lulusan diharapkan hadir sebagai pribadi yang mampu memberikan manfaat, menggerakkan masyarakat, serta menghadirkan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial.

Ketiga, mandat intelektual. Para alumni dituntut untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif agar mampu merespons berbagai persoalan serta perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.

Pendidikan Harus Membentuk Kemampuan Berpikir

Sementara itu, Koordinator Kopertais Wilayah III DIY menyoroti pentingnya pendidikan dalam membangun pola pikir peserta didik. Menurutnya, pendidikan tidak semata-mata diarahkan untuk membekali seseorang dengan keterampilan teknis tertentu, tetapi juga harus membentuk kemampuan bernalar.

Ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif merupakan bekal mendasar dalam menghadapi perkembangan zaman. Pengalaman selama lebih dari sepuluh tahun di Belanda turut menjadi refleksi mengenai bagaimana sistem pendidikan mendorong peserta didik untuk berani mempertanyakan sesuatu, melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, serta mengembangkan pola pikir di luar kebiasaan.

Sidang Senat Terbuka STAI Yogyakarta tahun ini pun menjadi lebih dari sekadar seremoni kelulusan. Momentum tersebut menjadi penanda berakhirnya satu tahapan pendidikan sekaligus awal bagi para lulusan untuk mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan bekal akademik, nilai keagamaan, serta kemampuan berpikir kritis, 57 wisudawan dan wisudawati diharapkan mampu mengambil peran positif di berbagai bidang. STAI Yogyakarta berkomitmen untuk terus melahirkan lulusan yang berintegritas, berakhlak, memiliki wawasan luas, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa.

#WisudaSTAIYogyakarta #STAIYogyakarta #GunungkidulBerdaya #Wisuda2026

Bagikan:

Tags

Related Post

Leave a Comment