Bicara tentang Problematika Perkawinan Usia Muda

Yogyakarta (14/10) – Akademi Hikmah mengadakan webinar Islamic Studies Forum dengan tema “Perkawinan Usia Muda; Pencegahan dan Penanganannya”. Bertindak sebagai narasumber Agus Suprianto, SH., SHI., MSI., CM. (Dosen Hukum STAI Yogyakarta, Advokat dan Mediator) dan Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si. (Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan, Dosen UIN Sunan Kalijaga, Sekretaris Koordinator Kopertais III D.I.Yogyakarta). Webinar di pandu oleh Mediator Dewi Istiqomah,SE. (Pustakawan, Penggiat Literasi) dan Host / MC Nurazila Sari, S.Pd. (Mahasiswi Program Magister PIAUD FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Agus Suprianto, SH., SHI., MSI., CM dalam paparan materi menyampaikan hakikatnya setiap anak mendapatkan perlindungan dan jaminan hak-hak yang akui dalam konstitusi Negara Indonesia, seperti hak memperoleh nama/identitas, bermain/rekreasi, diasuh oleh orang tua, kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, bebas dari diskriminasi, bebas dari eksploitasi, penelantaran dan perilaku kekerasan. Dalam upaya penjaminan hak-hak tersebut, bagaimana ketika dihadapkan dengan fakta-fakta seperti kejadian anak sekolah yang pacaran dan mengalami hamil sebelum menikah. Data Mahkamah Agung RI tentang keadaan perkara tingkat pertama, permohonan menikah usia dini atau permohonan dispensasi kawin menempati posisi tertinggi urutan ketiga yaitu tahun 2019 sejumlah 25.374 perkara dan tahun 2020 sejumlah 65.273.


Kondisi pandemic covid-19, ditengah keterpurukan ekonomi yang melanda masyarakat justru permohonan dispensasi pernikahan dini meningkat. Menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY, angka kasus kehamilan tidak diinginkan yaitu Kota Yogyakarta 125, Bantul 341, Kulon Progo 131, Gunungkidul 269, dan Sleman 343. Yang demikian menurut Agus, karena didorong adanya faktor seperti pendidikan yang rendah, ekonomi yang rendah, budaya masyarakat relatif rendah, menghindari zina / pacaran tanpa batas / kawin lari, glorifikasi perkawinan yang tidak realistis, hamil sebelum menikah dan penyalah-gunaan celah ‘dispensasi kawin’. Sehingga menurutnya ini perlu tindakan pencegahan seperti memperbaiki pendidikan, kesehatan dan ekonomi masyarakat, mewaspadai penurunan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), mewaspadai dampak nikah muda contoh ‘penyesalan apabila anak berharap kembali sekolah’, perlunya wawasan pendidikan pernikahan yang substantif dan bukan formalis, selalu melakukan kampanye ‘Jangan Nikah Muda’ atau ‘Jo Kawin Bocah’, memperbaiki regulasi seperti perubahan usia 16 tahun menjadi 19 tahun, dan selalu berkolaborasi yang sinergis antara pemerintah, orangtua, sekolah/akademisi, masyarakat, komunitas, dunia usaha, media massa dalam upaya pencegahan pernikahan dini.
Lebih lanjut Agus yang saat ini sedang menempuh Studi Program Doktor Ilmu Syariah di Fakultas Syariah dan Hukum Sunan Kalijaga, menyampaikan kepada publik agar masyarakat dan para orangtua untuk betul-betul memperhatikan permasalahan pernikahan usia muda ini. Pernikahan adalah suatu yang serius dan harus dipersiapkan secara lahir maupun bathin. Pernikahan perlu diniatkan Ibadah, dijalani dengan ilmu dan betul-betul menjauhkan kemaksiatan-kemaksiatan yang dalam rumah tangga, seperti menghindari kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual dan penelantaran keluarga.
Sementara Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si., dalam paparan materi menyampaikan tambahan materi yang telah disampaikan narasumber sebelumnya yaitu dari sudut pandang Agama dan pendidikan. Sebagai pakar pendidikan, permasalahan bangsa ini sesungguhnya terletak di pendidikan. Apabila pendidikan bagus, orangtua memberikan pendidikan kepada anak dengan baik dengan pilihan sekolah yang terpercaya dan lingkungan sekolah yang mendukung, dengan guru-guru yang amanah, atau memasukkan di pendidikan pesantren, Insya Allah tidak akan terjadi perilaku menyimpang seperti hamil sebelum menikah, yang memaksa keadaan untuk pernikahan usia muda. Betul yang disampaikan Pak Agus tadi, bahwa pernikahan perlu diniatkan Ibadah kepada Allah dan dijalani dengan ilmu-ilmu dalam wawasan rumah tangga. Sebagai trainer di BP4 yang pernah memberikan materi bimbingan pra nikah, memang mayoritas di BP4 adalah ahli agama yang fasih dengan dalil dan rujukan al-qur’an dan hadist. Tetapi wawasan perkawinan, tidak cukup hanya aspek agama saja, perlu sentuhan aspek pendidikan, aspek psikologi, aspek hukum dan aspek lainnya.
Untuk itu, kita mengajak pemerintah, masyarakat, orangtua dan lingkungan pendidikan agar selalu bersinergi melakukan pengawasan, pengkaderan dan monitoring dalam upaya mencegah perilaku pernikahan usia muda akibat penyimpangan akhlak. Serta mendorong agar pernikahan seyogyanya dijalani pada usia ideal pernikahan antara 25-30 tahun dan yang telat melampaui 30 tahun agar segera membuka diri dan mempersiapkan untuk pernikahan sebagai bagian proses kehidupan yang dinilai sebagai ibadah dan ajaran sunnah Nabi.


Setelah pemaparan materi, banyak peserta webinar yang memberikan respon balik, baik melalui chat di zoom meeting ataupun langsung on camera zoom. Semua respon menunjukkan keprihatinan yang tinggi atas kondisi pernikahan usia muda yang meningkat, khususnya diera pandemi ini. Serta mempunyai komitmen yang sama untuk meningkatkan upaya pencegahan melalui berbagai aspek kehidupan.