Sinergi LAZISNU dan STAI Yogyakarta, Delapan Pelaku UMKM Didorong Naik Kelas

Yogyakarta, 29 Agustus 2026 — Semangat pemberdayaan ekonomi masyarakat kembali tumbuh melalui kegiatan pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mempertemukan para pelaku usaha dengan pendamping dari kalangan akademisi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh delapan pelaku usaha UMKM serta para dosen STAI Yogyakarta yang hadir sebagai pendamping UMKM sekaligus mitra LAZISNU.

Pertemuan ini menjadi ruang untuk mempertemukan dua kekuatan penting dalam pemberdayaan masyarakat: gerakan sosial-keagamaan dan dunia akademik. LAZISNU hadir membawa semangat kepedulian dan pemberdayaan, sementara dosen-dosen STAI Yogyakarta memberikan pendampingan melalui pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan akademik yang aplikatif.

Bagi para pelaku UMKM, kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan. Di dalamnya terdapat harapan agar usaha yang selama ini tumbuh dari keterbatasan dapat berkembang menjadi lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing.

Delapan pelaku usaha yang hadir menjadi gambaran bahwa UMKM merupakan denyut nadi ekonomi masyarakat. Dari tangan-tangan sederhana para pelaku usaha, lahir berbagai produk dan kreativitas yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Namun, perjalanan menuju usaha yang lebih maju tentu membutuhkan pendampingan, pengetahuan, jejaring, serta keberanian untuk berinovasi.

Kehadiran dosen STAI Yogyakarta sebagai pendamping menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi untuk tidak berhenti pada ruang kelas. Ilmu pengetahuan diharapkan dapat hadir di tengah masyarakat, menyentuh persoalan nyata, sekaligus menjadi energi perubahan.

“Pendampingan UMKM adalah ikhtiar untuk menyalakan cahaya kemandirian. Ketika pengetahuan bertemu dengan ketekunan para pelaku usaha, maka peluang untuk tumbuh menjadi semakin terbuka,” demikian semangat yang tercermin dalam kegiatan tersebut.

Kolaborasi STAI Yogyakarta dan LAZISNU juga menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat membutuhkan kerja bersama. Perguruan tinggi memiliki pengetahuan dan sumber daya akademik, sementara lembaga sosial memiliki pengalaman dalam membangun jejaring dan kepedulian masyarakat. Ketika keduanya berjalan beriringan, pemberdayaan dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Kegiatan pendampingan ini diharapkan tidak berhenti pada satu pertemuan. Para pelaku UMKM diharapkan memperoleh penguatan dalam pengelolaan usaha, pengembangan produk, pemasaran, pemanfaatan teknologi, hingga peningkatan kapasitas manajemen.

Lebih dari sekadar meningkatkan omzet, pemberdayaan UMKM merupakan upaya membangun kemandirian ekonomi dan martabat masyarakat. Sebab, sebuah usaha kecil yang tumbuh dengan tekun bukan hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga membuka jalan bagi keluarga untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah, sinergi antara LAZISNU dan STAI Yogyakarta menjadi sebuah ikhtiar yang sederhana namun bermakna: menjadikan ilmu sebagai pengabdian dan pemberdayaan sebagai jalan menuju kemandirian.

Delapan pelaku UMKM yang hadir hari itu membawa produk dan pengalaman masing-masing. Namun, mereka pulang dengan harapan yang sama—bahwa usaha kecil yang dirawat dengan ilmu, pendampingan, dan ketekunan suatu saat dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang besar bagi masyarakat.

Bagikan:

Tags

Berita

Related Post

Leave a Comment