STAI Yogyakarta ; Berwisata Religi dan Ziarah GUS DUR

(Surakarta – Jombang, 13/01) – Program Studi Hukum keluarga Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAI Yogyakarta) melakukan kegiatan wisata religi ke Masjid Sheikh Zayed Solo yang berlokasi di Jl. Ahmad Yani No.128 Gilingan, Banjarsari, Surakarta, dan Ziarah Makan Gus Dur ‘Presiden RI Ke-4’ di Komplek Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur pada tanggal 01 Rajab 1445 H. / 13 Januari 2024 M. Kegiatan wisata religi dan ziarah dipimpin langsung oleh Ihyak, SHI., MHI Kaprodi Hukum Keluarga STAI Yogyakarta.

Gufron, SHI., MH sebagai Ketua Panitia menjelaskan maksud kegiatan wisata religi dan ziarah adalah menambah rasa syukur atas nikmat dan ciptaan Allah yang diberikan kepada hambanya, melepas kejenuhan dan menghilangkan stress, mengisi energi spiritual dan meningkatkan metabolisme tubuh, mendekatkan diri kepada sang pencipta dan mengingatkan akhirat, serta menambah wawasan dan kualitas diri.

Wisata religi ke Masjid Sheikh Zayed, karena masjid ini merupakan replika dari Sheikh Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, UEA. Masjid Sheikh Zayed dibangun dengan dua lantai dan dilengkapi empat menara serta satu kubah utama. Total, ada 82 kubah yang dihiasi batu pualam putih. Masjid ini adalah simbol persahabatan negara Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA). Simbol persahabatan ini diperkuat dengan ditanamnya pohon Sala di area masjid. Meskipun memiliki ornamen bangunan khas Timur Tengah, tetapi masjid ini tetap memiliki sentuhan unsur budaya asli Indonesia. Di beberapa bagian lantai di Masjid Sheikh Zayed terdapat hiasan motif batik, yaitu batik kawung. Masjid ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo bersama Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed Al Nahyan pada tanggal 14 November 2022. Lokasi masjid dahulu merupakan Depo Pertamina, dengan luas bangunan 8000 m². Secara keseluruhan, masjid mampu menampung hingga 10 ribu jamaah, tetapi bangunan inti hanya mampu menampung 4 ribuan jamaah.

Selanjutnya wisata religi, dilanjutkan ziarah Makam Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) ‘Presiden RI Ke-4’ di Komplek Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Makam Gus Dur ini “tak pernah sepi dari pengunjung / peziarah, kotak amal ratusan juta buat guru ngaji dan anak yatim.” Makam Gus Dur merupakan salah satu tempat ziarah yang populer di Indonesia, karena beliau adalah tokoh besar, ulama tersohor, intelektual muslim, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang sangat dihormati dan pernah menjadi Presiden RI Ke-4. Makam Gus Dur memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Tempat ini dianggap suci dan diyakini memiliki aura positif yang dapat memberikan ketenangan dan inspirasi bagi para pengunjungnya. Makam ini juga menjadi titik pertemuan bagi orang-orang yang memiliki keyakinan dan nilai-nilai yang sama seperti Gus Dur.

Ada beberapa pengaruh makam Gus Dur bagi masyarakat, yaitu : pertama, Inspirasi spiritual. Makam Gus Dur menjadi tempat yang menginspirasi masyarakat untuk menjalani kehidupan spiritual yang lebih mendalam. Kedua, Pemersatu masyarakat. Makam Gus Dur menjadi tempat pertemuan bagi orang-orang dari berbagai latar belakang budaya, agama, dan suku. Ketiga, Warisan pemikiran. Makam Gus Dur mengingatkan masyarakat akan pemikiran dan kontribusinya sebagai pemimpin yang moderat dan berlandaskan pada prinsip keadilan sosial, demokrasi, dialog antaragama, dan HAM. Keempat, Destinasi wisata religious. Makam Gus Dur menjadi daya tarik wisata religius bagi masyarakat lokal dan pengunjung dari berbagai daerah untuk berziarah, berdoa, dan memberi dampak positif pada ekonomi lokal. Kelima, Peringatan tahunan. Makam Gus Dur menjadi tempat diadakannya peringatan tahunan yang dihadiri oleh ulama dan tokoh lokal-nasional-internasional.

Selain ziarah Gus Dur, rombongan Prodi Hukum Keluarga STAI Yogyakarta juga ziarah ke makam para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang Jawa Timur. Pendiri NU yang terkenal, ada tiga kyai yaitu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, Kyai Abdul Wahab Hasbullah, dan Kyai Bisri Syansuri. Selain itu, memang ada kyai yang lain sebagai pendiri dan tokoh NU seperti Kyai Cholil Bangkalan, Kyai Faqih Maskumambang Gresik, Kyai Mas Alwi Abdul Aziz yang menamai NU, Kiai Ridwan Abdullah yang membuat lambang NU, Kyai Abdul Chalim Wakil Katib PBNU pertama kali, Kyai Wahid Hasyim dan kyai-kyai lainnya. Semoga dengan kegiatan wisata religi dan ziarah ini, dapat betul-betul menambah imun dan energi positif stakeholder STAI Yogyakarta dan memberikan maslahah keberkahan bagi kampus STAI Yogyakarta. (GFR)