Webinar Internasional ; Islamic Studies in The Age of AI

(Wonosari, 07/12) – Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAI Yogyakarta) bekerjasama dengan kampus ST. Thomas More College University of Saskatchewan Kanada menyelenggarakan Webinar Internasional pada hari Kamis, 07 Desember 2023. Webinar Internasional dilaksanakan secara online melalui aplikasi Zoom Meeting dan diikuti sekira + 200 partisipan. Webinar ini mengangkat tema yaitu ‘Islamic Studies in The Age of AI’ dan menghadirkan dua narasumber yaitu Prof. Fahrizal A. Halim dari kampus ST. Thomas More College University of Saskatchewan Kanada dan Muhammad Sidiq Satriayudha, S.Pd., M.Pd dari kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta. Bertindak sebagai Keynote Speech Dr. Mustolikh Khabibul Umam, S.Pd.I., M.Pd.I selaku Kaprodi PBA dan moderator Khusnul Khotimah, S.Pd., M.Pd Dosen Prodi PAI.

Mustolikh Khabibul Umam sebagai Keynote Speech menyampaikan terima kasih atas penyelenggaraan webinar internasional ini, yang mana kegiatan ini diinisiasi kerjasama antara kampus STAI Yogyakarta Indonesia dengan kampus ST. Thomas More College University of Saskatchewan Kanada dalam hal ini bersama Prof. Fahrizal A. Halim. Semoga kerjasama ini selalu berlanjut dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang menguntungkan semua pihak. Diketahui Bersama bahwa pendidikan Islam pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan tingkat kecerdasan, budi pekerti dan keimanan seseorang yang berlandaskan pada tuntunan ajaran agama Islam. Pada awalnya, sistem pendidikan Islam identik dengan pola pengajaran yang digunakan pada pondok pesantren. Karena masih menggunakan metode pengajaran yang sangat sederhana. Tempatnya pun tidak pada ruangan atau gedung khusus seperti sekarang, melainkan masih menempati masjid atau langgar (mushola) yang menjadi proses ajaran agama islam. Para santri juga dibina agar menerapkan moralitas Islam sebagai pedoman hidup sehari-hari. Selain itu santri diajarkan agar mendalami ilmu pengetahuan dengan ikhlas tanpa memikirkan hal keduniawian (materialistis).

Pengelola lembaga pendidikan Islam, mulai berevolusi mengikuti perkembangan ilmu pendidikan nasional dengan cara mengadaptasi kurikulum pendidikan umum lalu dipadukan dengan pola pendidikan Islam. Selain itu, juga menggunakan ijazah sebagai bukti resmi kelulusan siswa yang diakui oleh negara. Namun tidak sedikit lembaga Islam yang masih menggunakan sistem pendidikan Islam murni dan hanya mengkaji ilmu agama secara ikhlas tanpa memikirkan ijazah. Sistem tersebut dikenal dengan sistem salaf (tradisional).

Selain itu, penyelenggara pendidikan Islam di era digital juga mulai membekali anak didiknya dengan teknologi yang berkembang pesat pada masa sekarang. Seperti dimasukkannya mata pelajaran komputer pada pendidikannya. Dengan dimasukkannya sistem tersebut diharapkan anak didik tersebut akan lebih siap menghadapi persaingan di era gobal. Selain berdampak pada sistem pendidikan yang digunakan, perkembangan zaman yang begitu cepat juga bepengaruh pada motivasi dan semangat generasi muslim dalam menuntut ilmu. Baik itu ilmu agama maupun ilmu pengetahuan umum. Pada zaman dahulu meskipun belum ada fasilitas pendukung yang sangat memadai, namun semangat anak didik sangat besar. Sehingga dengan besarnya niat dalam menuntut ilmu menjadikan mereka orang-orang yang beriman dan berilmu. Hal itu berlawanan dengan masa global seperti sekarang, dengan adanya teknologi-teknologi pendukung yang sangat canggih justru malah membuat mereka lalai dan menjadikan turunnya motivasi anak didik dalam mencari ilmu. Dengan adanya perkembangan teknologi sekarang ini, seharusnya kita memanfaatkan untuk lebih meningkatkan kecerdasan dan potensi diri kita agar tidak tergerus arus globalisasi. 

Fahrizal A. Halim dalam paparan materinya menyampaikan bahwa perkembangan umat Islam yang signifikan membuat lembaga perguruan tinggi membuka program studi Islam. Universitas Mc-Gill, misalkan, membuka program studi tersebut. Para ahli studi agama berdatangan ke sana. Mereka mencurahkan pengetahuannya untuk perkembangan khazanah keagamaan, seperti Islam. Perguruan tinggi Kanada juga dikenal sebagai pusat studi keagamaan yang menginspirasi intelektual Islam Indonesia. Di sanalah tempat belajarnya Prof Harun Nasution yang dikenal dalam bidang pemikiran Islam. Kemudian, ada Prof Mukti Ali yang diakui dalam studi perbandingan agama. Setelah menempuh pendidikan di McGill, dia kembali ke Indonesia membawa ilmu tersebut ke Indonesia.

Tantangan yang dihadapi umat islam di kanada sebagai agama minoritas yaitu : 1) Mengurangi kesalahpahaman, 2) Mencoba membangun hubungan yang konstruktif dalam kalangan beragama di kanada. Dengan latar belakang umat beragama Islam dari berbagai negara, budaya dan etnik yang berbeda menimbulkan banyak perbedaan cara berfikir  maupun cara memahami agama Islam. Maka dari itu perlu ditanamkan dalam diri mahasiswa yang ada di kanada untuk tetap memegang teguh ajaran agama Islam di Kanada, contohnya dengan cara : sholat berjama’ah di masjid, mengikuti kajian Islam yang ada di Kanada , dan sebagainya.

Perlu digaris bawahi bahwa tradisi orientalis itu berkembang, karena kajian Islam itu bukan dinilai dari orientasi saja namun dinilai dari kehidupan sehari-hari. Cara pandang kajian Islam di Barat hanya fokus pada orientalisme itu tidak sepenuhnya benar, namun Islam di Kanada bersifat multidisipliner disebabkan perbedaan latar belakang umat Islam di Kanada. Proses kajian Islam di Kanada dapat dikembangkan melalui konferensi online, bahkan kajian-kajian mata kuliah di Universitas Kanada yang memiliki ajaran Islam.

Pentingnya teknologi bagi Pendidikan Islam di Kanada yaitu memudahkan para pelajar untuk mengakses modul-modul, buku-buku online, serta artikel untuk mendapatkan informasi ajaran Islam yang detail. Namun ada hal negatif bagi pelajar yaitu pelajar meremehkan cara penguasaan pembelajaran karena terlalu mudah mengakses dari AI. Hal ini perlu diantisipasi dengan cara mengevaluasi kebijakakan untuk menyeimbangkan AI dengan membuat tanggung jawab pengunaannya kepada para pelajar di Kanada.

Sementara Muhammad Sidiq Satriayudha dalam paparan materi menyampaikan tentang ‘Islam and Islamic Studies : Islamic Perspective on the Use of AI’.  Artificial Intelligence (AI) terdiri 3 hal antara lain : 1). Artificial Intelligence yaitu teknik yang memungkinkan komputer meniru perilaku manusia. 2). Machine learning yaitu bagian dari teknik AI yang menggunakan metode statistik untuk pengembangannya. 3). Deep learning yaitu membuat komputerisasi jaringan saraf multi-lapis menjadi layak dilakukan.

Perkembangan yang pesat dalam berbagai aspek kehidupan, telah mempengaruhi banyak hal seperti keamanan, Kesehatan, transportasi, pertanian, Pendidikan, perdagangan, dan keuangan. Dalam dunia Islam, tahun 2017 Arab Saudi memberikan kewarganegaraan  pertama kali kepada ‘Shopia Robot’ atau warga robot. Kemudian tahun 2017 s.d 2021, di MENA menerbitkan banyak dokumen yang menguraikan strategi untuk memanfaatkan AI untuk pertumbuhan ekonomi, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan transportasi. Lalu the AI strategy documents of the UAE (2017) and Saudi Arabia (2020), berkomitmen untuk melakukan reformasi kebijakan dan legislatif menyambut teknologi AI tanpa menyebut teknologi lokal norma dan nilai sebagai tolok ukur untuk menentukan konten etis dan normatif. Selanjutnya AI strategy documents of Qatar (2019) and Egypt (2021), memastikan keselarasan secara keseluruhan kebijakan teknis AI dan gagasan lokal tentang kesejahteraan dan etika.

Tantangan terkait Artificial Intelligence (AI) adalah aspek diskriminasi, hilangnya privasi, kesulitan mengidentifikasi kewajiban, dampak pengangguran, konsentrasi kekuasaan dan kekayaan pada beberapa orang atau pemangku kepentingan. Apalagi apabila dihubungan dengan etika dan norma. Oleh karenanya harus selalu menjadikan al-Qur’an, Hadis, Fikih, Ushul Fikih dan konsep maslahah mursalah dalam berbagai aspekkehidupan. Menurut Abdul Wahab Khallaf, Maslahah Mursalah yaitu segala sesuatu yang dapat mendatangkan atau memberi kemaslahatan tetapi di dalamnya tidak terdapat ketegasan atau doktrin hukum untuk menyatakannya dan juga tidak ada dalil atau nash yang memperkuat (mendukung) atau menolaknya. Mendahulukan kebaikan dan mencegah kemadharatan. Sehingga dengan demikian, maslahah mursalah dan maqashid sharia adalah gagasan yang paling relevan, sumber etika dan menghadapi ketidakpastian muncunya teknologi Artificial Intelligence (AI).

Usai pemaparan materi dari kedua narasumber, Khusnul Khotimah mempersilahkan kepada para partisipan webinar di zoom metting untuk mengajukan pertanyaan tanya jawab atas materi yang disampaikan kedua narasumber. Setelah beberapa peserta mengajukan pertanyaan dan memperoleh tanggapan dari kedua narasumber, acara webinar ditutup dengan memberikan alhamdulillah dan ucapan terima kasih. Selanjutnya seluruh partisipan diminta on camera untuk melakukan foto bersama. (Agt)