Prodi HKI STAI Yogyakarta bersama Mitra MBKM, Gelar Webinar Peran Pemuda Tentang Implementasi Budaya Sadar Hukum

Wonosari (31/10) – Hari Senin, 31 Oktober 2022 Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAI Yogyakarta) bersama Mitra MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) menyelenggarakan Webinar Nasional dengan tema “Peran Pemuda tentang Implementasi Budaya Sadar Hukum” melalui aplikasi zoom meeting. Kegiatan ini bagi kampus, sekaligus menjadi moment memperingati Harlah STAI Yogyakarta ke-51 (30 November 1971 s.d 30 November 2022). Webinar Nasional ini menghadirkan 5 narasumber yaitu Khiyaroh, SH., MH, Dosen HKI STAI Yogyakarta; Moh. Hamzah Hisbulloh, MH, Dosen HTN STAI Mulia Astuti Wonogiri; M. Najih Abqori, SHI, MH, Dosen HKI STAI An-Nawawi Purworejo; Dr. Ariyadi, S.H.I., M.H, Dosen HK Universitas Muhammadiyah Palangkaraya; dan  Muhammad Marizal, SH., MH, Dosen FH Universitas Tidar Magelang; dengan moderator Titik Vitriani, Mahasiswa HTN STAI Mulia Astuti Wonogiri. 

Khiyaroh dalam paparan materi menyampaikan tentang kesadaran hukum generasi muda di ruang digital. Dikatakan Steve Job, “bersahabatlah dengan teknologi, siapa yang mencoba melawan teknologi maka akan tergilas oleh teknologi itu.” Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi cenderung berpengaruh langsung terhadap peradaban manusia. Hubungan hukum dan perkembangan teknologi, hukum selalu menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, seperti persidangan online, mediasi online, Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP), cek akta cerai, direktori putusan, pendaftaran sidang online, Sistem Informasi Manajemen Nikah (SIMKAH), transaksi keuangan digital, dan sebagainya. Indikasi kesadaran hukum yaitu adanya pengetahuan, pemahaman, sikap peraturan-peraturan hukum dan pola-pola perilaku hukum. Hukum perkawinan juga telah masuk dalam ruang digital, seperti aplikasi SIMKAH, kemudahan masyarakat mengakses wacana-wacana pernikahan, dan banyaknya wacana aspek hukum perkawinan yang berkeadaban, demokrasi, HAM, dan keadilan gender. Kemudian tip menggunakan media digital agar terhindar dari persoalan hukum, antara lain : memahami aturan hukum atau regulasi yang berlaku, etika menggunakan media sosial, mengkroscek kebenaran informasi sebelum dibagikan, dan hati-hati dalam memosting data pribadi. Diharapkan peran dari mahasiswa atau sarjana hukum, misal sebagai conten creator keilmuan moderat dan progresif dalam mengisi atau memposting materi-materi hukum di ruang-ruang digital seperti facebook, instagram, website dan sebagainya, demi terciptanya kesadaran hukum di masyarakat, khususnya kaum milenial.

Sementara Moh. Hamzah Hisbulloh, dalam paparan materi menyampaikan tentang budaya sadar hukum generasi pemuda sebagai ujung tombak regenerasi bangsa. Indonesia sebagai Negara hukum mengandung konsekuensi bahwa segala bentuk penyelenggaraan negara harus berdasarkan aturan/hukum yang berlaku, dan hukum harus selalu di junjung tinggi dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Kesadaran hukum dapat diartikan sebagai kesadaran seseorang atau suatu kelompok masyarakat kepada aturan-aturan atau hukum yang berlaku. Faktor penyebab kurangnya kesadaran hukum di masyarakat, dikarenakan : pertama, seperangkat peraturan perundang-undangan yang telah dibuat oleh lembaga yang berwenang yang masih belum memperlihatkan perlindungan masyarakat. Kedua, merasa hukum di Indonesia masih belum bisa memberikan jaminan terhadap mereka. Ketiga, Aparat Penegak Hukum sebagai pembuat dan pelaksana hukum itu sendiri masih belum bisa untuk benar-benar menerapkan peraturan yang sudah ditetapkan. Selanjutnya tujuan meningkatkan budaya sadar hukum di masyarakat adalah : 1). meningkatkan kualitas hidup bernegara menjadi lebih baik, 2). meningkatkan rasa keadilan dalam penegakan hukum, dan 3). memberikan pemahaman lebih baik para generasi muda terkait aturan-aturan hukum yang berlaku. Karena dalam penerapan asas fiksi hukum yang menyatakan bahwa “setiap orang dianggap tahu hukum”. Akhir dari pemaparan ini bahwa generasi muda yang sadar hukum yakni generasi muda yang memahami hukum secara komprehensif, yang terkait dengan hak dan kewajibannya. Mengetahui kebolehan-kebolehan dan larangan-larangan, memahami keuntungan dan resiko apa saja yang akan dialami terkait perbuatan hukum yang dilakukannya. Teliti dan cermat, dalam mengambil langkah-langkah dan tindakan-tindakan hukum, mampu menjauhi segala perbuatan yang dapat menimbulkan pelanggaran hukum.

Kemudian M. Najih Abqori dalam paparan materi menyampaikan tentang membangun perilaku sadar hukum dalam kehidupan bermasyarakat. Kesadaran hukum yaitu meliputi tidak hanya fenomena sudah menjadi tahu, akan tetapi juga lebih lanjut menjadi suatu berkemantapan hati untuk mematuhi apa yang harus diperintahkan oleh hukum. Proses kesadaran hukum dapat diperoleh melalui pengabaran, pemberitahuan dan melalui pengajaran. Faktor yang menyebabkan masyarakat mematuhi, antara lain : pertama, compliance, diartikan sebagai suatu kepatuhan yang didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghindarkan diri dari hukuman atau sanksi yang mungkin dikenakan apabila seseorang melanggar ketentuan hukum. Kedua, identification, terjadi karena apabila kepatuhan terhadap kaidah hukum ada bukan karena nilai intriksnya, akan tetapi agar keanggotaan kelompok tetap terjaga serta ada hubungan baik dengan mereka yang diberi wewenang untuk menerapkan kaidah-kaidah hukum tersebut. Ketiga, internalization, pada tahap ini seseorang mematuhi kaidah-kaidah hukum dikarenakan secara intrinsic kepatuhan tadi mempunyai imbalan. Kesadaran hukum masyarakat dapat diterapkan dalam empat lingkungan yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan Negara.

Selanjutnya Ariyadi dalam paparan materi menyampaikan tentang mahasiswa sebagai harapan bangsa Indonesia. Mahasiswa merupakan peserta didik yang terdaftar dan belajar pada suatu perguruan tinggi, baik di universitas, institut, sekolah tinggi ataupun akademi. Untuk menjadi mahasiswa yang sukses, diperlukan 6 (enam) langkah yaitu : 1). luruskan niat/tujuan kamu kuliah, 2). ingat biaya (kerja keras orang tua), 3). berikan penghargaan kepada diri anda (self reward), misalnya atur waktu belajar, jalan-jalan atau rekreasi, 4). sesekali lihat ke bawah, maka kamu akan merasa lebih bersyukur, 5). jangan suka menunda tugas kuliah, disiplin dan buat jadwal mandiri dan 6). temukan metode belajarmu sendiri.

Terakhir Muhammad Marizal dalam paparan materi menyampaikan tentang aspek hukum e-commerce. E-commerce transaction adalah transaksi dagang antara penjual dengan pembeli dalam penyediaan barang, jasa atau mengambil alih hak, yang mana kontrak ini dilakukan dengan media elektronik (digital medium). Unsur e-commerce yaitu ada kontrak dagang, kontrak itu dilaksanakan dengan media elektronik, kehadiran fisik dari para pihak tidak diperlukan, kontrak itu terjadi dalam jaringan publik, sistem terbuka menggunakan internet, dan tidak dibatasi yurisdiksi nasional. E-commerce mencakup bidang multidisipliner yaitu : 1). bidang teknik, seperti jaringan, telekomunikasi, pengamanan, penyimpanan dan pengambilan data dari multimedia. 2). bidang bisnis, seperti pemasaran, pembelian dan penjualan, penagihan dan pembayaran, manajemen jaringan distribusi. 3). bidang hukum, seperti perlindungan data, perlindungan konsumen, dan hak milik intelektual. Beberapa masalah hukum dalam e-Commerce adalah tanda tangan digital, kecakapan hukum para pihak, wanprestasi kontrak, keamanan data privasi (NIK, No. HP, No. Rekening), penipuan, dan barang palsu.

Usai pemaparan materi kelima narasumber, Titik Vitriani selaku moderator membuka sessi tanya jawab, dengan mulai membacakan pertanyaan yang disampaikan peserta webinar melalui kolom chat di aplikasi zoom dan memberikan kesempatan narasumber untuk memberikan penjelasan. Sebelum mengakhiri kegiatan, moderator mohon kepada seluruh narasumber dan meminta kepada seluruh peserta webinar untuk menyalakan camera dan selanjutnya dilakukan foto bersama. (Kyr)