Peringatan HSN 2022, STAI Yogyakarta Selenggarakan Tasyakuran dan Sarasehan

(Wonosari, 22/10) – Sekolah Tinggi Agama Islam Yogyakarta (STAI Yogyakarta) melaksanakan Tasyakuran dan Sarasehan dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional (HSN) pada tanggal 22 Oktober 2022, pukul 10.00 – 12.30 di Aula Lt.2 Gedung Drs. Mardiyo, M.Si Kampus STAI Yogyakarta, dengan pembicara Dr. Ulin Nuha, S.Pd.I., M.Pd.I selaku Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) STAI Yogyakarta dan Gufron Masduki, SHI., MH selaku Dosen Hukum Keluarga Islam (HKI) STAI Yogyakarta.

Ulin Nuha, menyampaikan bahwa Santri merupakan sebutan bagi para siswa yang belajar mendalami agama di pesantren. Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan agama Islam yang bertujuan untuk menguasai ilmu agama Islam secara detail, serta mengamalkan sebagai pedoman hidup keseharian dengan menekankan pentingnya moral dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Zamakhsyari Dhofir dalam bukunya berjudul “Tradisi Pesantren” menjelaskan ada dua kelompok santri yaitu : 1). Santri mukim, yakni para santri yang menetap di pondok, biasanya diberikan tanggung jawab mengurusi kepentingan pondok pesantren. 2). Santri kalong, yakni santri yang selalu pulang setelah selesai belajar atau kalau malam ia berada di pondok dan kalau siang pulang ke rumah.

Santri adalah sekelompok orang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan ulama. Santri adalah siswa atau mahasiswa yang dididik di dalam lingkungan pondok pesantren menjadi murid sekaligus menjadi pengikut dan pelajar perjuangan ulama yang setia. Kepribadian seorang santri pada dasarnya adalah pancaran dari kepribadian dari seorang ulama yang menjadi pemimpin dan guru pada setiap pondok pesantren. Sebab sebagaimana kita ketahui bahwa ulama bukan saja sebagai guru dan pemimpin, tetapi juga uswah hasanah bagi kehidupan seorang santri. Kharisma dan wibawa seorang ulama begitu besar mempengaruhi kehidupan setiap santri dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Untuk menjadi santri yang berkualitas, ada empat karakter yang harus dimiliki santri yaitu : pertama, Santri harus mampu menjadi teladan dan pendidik di lingkungan keluarga, pondok pesantren dan masyarakat luas. Kedua, Santri harus percaya diri (optimistik), memiliki wawasan yang berorientasi masa depan serta tanggap dan mampu menghadapi segala problematika hidup dan kehidupan. Ketiga, Santri mampu menjadi motor perkembangan di segala bidang dan secara inklusif memiliki memiliki sikap responsif dan selektif terhadap ide-ide inovatif dan ide-ide modernis yang sedang berkembang. Keempat, Santri harus memiliki sifat dan sikap serta watak kepribadian yang bersedia untuk selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara riil.

Sementara Gufron Masduki, menyampaikan bahwa saat proklamasi kemerdekaan sudah dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Proklamator Sukarno dan Moh. Hatta, kondisi keamanan belum stabil. Pemerintahan daerah banyak yang belum terbentuk, kas Negara masih kosong, tentara tidak punya, polisi juga tidak ada, dan kekacauan masih melanda beberapa tempat. Beberapa minggu setelah proklamasi kemerdekaan, dalam suasana ketidakpastian pasca kekalahan Jepang dan ketidakstabilan politik pasca kemerdekaan. Surabaya menjadi titik kumpul para pejuang. Di akhir Agustus 1945, Penjajah Belanda meminta agar pimpinan kota Surabaya mengibarkan bendera triwarna (bendara Belanda) untuk memperingati ulang tahun Ratu Wihelmina. Tindakan ini kemudian memicu suasana panas dan sekelompok pemuda menyobek warna biru pada bendera Belanda yang berkibar di tiang atas Hotel Oranje hingga menyisakan warna merah dan putih.

Kondisi seperti ini membuat Presiden Soekarno mengirim utusan untuk bertemu dan berkonsultasi dengan KH. Hasyim Asy’ari dan mempertanyakan tentang hukum mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia. KH. Hasyim Asy’ari menanggapi secara tegas untuk umat Islam wajib melakukan pembelaan terhadap tanah airnya dari ancaman asing. Akhirnya pada 17 September 1945, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Jihad yang berbunyi : Pertama, hukumnya memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang ini adalah fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang Islam meskipun bagi orang fakir. Kedua, hukumnya orang yang meninggal dalam peperangan melawan NICA serta komplotannya adalah mati syahid. Ketiga, hukumnya orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh. Dari fatwa ini, selanjutnya Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari memanggil Kiai Wahab Hasbullah, Kiai Bisri Syamsuri, dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se Jawa dan Madura. Berpijak pada Fatwa Jihad, para ulama se-Jawa dan Madura, rapat yang dipimpin Ketua Besar KH. Abdul Wahab Hasbullah pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di Kantor PBNU di Bubutan, Surabaya dan tanggal 22 Oktober 1945 menyimpulkan suatu keputusan yang beri nama “Resolusi Jihad Fii Sabilillah” yang berisi 5 butir dengan intinya adalah mempertahankan kemerdekaan sebagai Jihad Fii Sabillah.

Selesai sarasehan, kegiatan dilanjutkan Serah Terima Jabatan Ketua Senat Mahasiswa STAI Yogyakarta dari Akhib Ardiyanto (HKI) Ketua SEMA periode 2021-2022 kepada Hilman Abdurrohman (PAI) Ketua SEMA terpilih periode 2022-2023. Kemudian acara tasyakuran dilanjutkan tumpengan dan makan secara bersama-sama.