Bak Ikan Koi Mengikuti Arus, Prinsip Hidup yang Dipegang Lukas

Wonosari-Pendidikan adalah hal yang vital dan kebutuhan yang sangat penting bagi orang. Dimana pendidikan ini dapat berlangsung di mana saja, baik di sekolah atau non sekolah, baik secara formal atau non formal, baik secara langsung maupun tidak langsung. Apalagi pada saat sekarang ini, Pandemi Covid-19 yang telah melanda seluruh penjuru dunia menuntut agar semua orang dapat belajar dimana saja, kapan saja, dan dengan apa saja. Oleh karenanya, pemerintah dalam hal ini Kemendikbud Ristek mencanangkan program “Merdeka Belajar”, dimana proses pembelajaran tidak mengenal waktu, ruang dan aturan yang bakuseperti proses belajar pada umumnya, yaitu harus di sekolah dengan berbagai macam perangkat dan administrasi yang harus dicapai dan dikerjakan.

Berangkat dari program “Merdeka Belajar” tersebut, kampus STAIYO dalam hal ini pada mata kuliah yang diampu salah satu dosen, Bapak Hudan Mudaris, S.E.I., M.S.I., dosen milenial dan fenomenal mendorong mahasiswa untuk keluar dari zona nyaman saat ini, beliau mendorong mahasiswa agar bertemu dengan orang-orang yang dianggap paling sulit untuk ditemui, paling berpengaruh di Gunungkidul, serta tokoh-tokoh yang luar biasa hebat dalam hidupnya. Tersiratnya dorongan beliau adalah memberikan pendidikan kepada mahasiswa agar mau belajar dan mau untuk keluar dari zona nyaman saat ini untuk menjadi pribadi yang lebih kuat lagi dan mengenal dunia luar lebih luas lagi.

Dalam kesempatan ini kami (pen) menemui salah satu tokoh seni di Taman Budaya Gunungkidul (TBG) yang berada di Jalan Lingkar Utara, Ngisis, Piyaman, Wonosari, Gunungkidul. Tempat baru yang dimiliki oleh Kabupaten Gunungkidul sebagai wadah para seniman dan seniwati untuk berekspresi dan berkarya. Disamping itu TBG juga berfungsi sebagai media promosi tentang kebudayaan khas Gunungkidul dengan warisan seninya agar dapat dikenal lebih luas.

Seni adalah sebuah karya atas hasil yang dicapai dan disuguhkan kepada khalayak dari seseorang. Ada yang mengatakan seni itu rusak, karena dari rusak itu justru sebuah karya akan terlihat berbeda dari yang lain dan menarik perhatian. Seni dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Keduanya sangat erat berkaitan dan satu kesatuan dalam bingkai kebudayaan. Dalam hal kesenian, Kabupaten Gunungkidul, tepatnya desa Baleharjo memiliki satu tokoh yang menarik untuk didatangi dan bisa belajar dari beliau. Beliau adalah figur kesenian dalam bidang seni teater dan seni rupa.

Lukas Priyo Arintoko atau sering dipanggil Lukas, pria berusia 38 tahun, salah seorang tokoh penting dalam dunia seni rupa, teater dan dekorasi di Kabupaten Gunungkidul. Beliau berdomisili di Desa Baleharjo, Wonosari, yang akhir-akhir ini menggeluti dunia seni rupa, mulai dari dekorasi pengantin, dekorasi panggung, tamanisasi rumah, desain iklan dan melukis. Bahkan beliau juga turut menangani dunia teater yang ada di Wonosari. Di samping itu, seni kethoprak pun tak luput dari jamahan tangan dinginnya. Meskipun, dari sekian banyak kegiatan tersebut beliau tidak pasang iklan atau promosi bahwasanya beliau menerima jasa kegiatan dekorasi tersebut, namun orang-orang justru mendatangi beliau untuk meminta bantuan.

Lelaki nyentrik yang memiliki rambut panjang, berkumis tebal dan berjenggot ini mengungkapkan kecintaannya pada dunia seni, terutama seni lukis dan seni rupa sejak beliau masih kecil. Dari hobi yang senang menggambar, timbullah keinginan untuk terus menggeluti bidang seni ini. Namun, seketika harapan tersebut pupus karena terkendala suatu hal hingga akhirnya tidak bisa melanjutkan kuliah pada bidang seni lukis, beliau justru diterima di jurusan seni teater atau seni pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Namun, berkat ketelatenan dan kecintaannya pada seni rupa, beliau saat ini justru menggeluti seni dekorasi yakni dekorasi panggung, dekor nganten, dan tamanisasi.

Hidup saya itu tak buat bak ikan koi yang mengikuti arus, brow. Ikuti kemana air mengalir, ikuti kehendak serta takdir Tuhan yang diberikan kepada kita. Jangan sampai membanting setir, melakukan hal diluar ekspektasi kita yang justru akan memberatkan hidup kita sendiri.” ungkap Lukas saat ditanya terkait dengan motto hidupnya selama ini. Beliausangat percaya akan takdir dan kuasa Tuhan yang diberikan kepadanya itu adalah jalan terbaik bagi hidupnya. Oleh karena itu, dalam setiap langkah untuk menjalani hidup ini beliau merasa enjoy serasa tanpa beban, “meskipun sebenarnya beban hidup itu pasti ada, tapi kita ikuti saja alurnya” pungkas Lukas diakhir wawancara yang berlangsung di Taman Budaya Gunungkidul(TBG).

Penulis : Febri Rahayu Saputro dan Imam Abu Tauchid, Mahasiswa prodi PAI-V STAIYO